Uhm, remembering …
Delapan tahun yang lalu…
Tetesan air mata, menetes tanpa henti dari sepasang mata yang hampir setiap hari aku lihat tersenyum..
Bukan karena debu air matanya menetes…
Karena sang Ayah yang pergi untuk selamanya..
Pergi untuk memberikan kesempatan kepada dirinya agar tumbuh menjadi seseorang yang mandiri..
Seseorang yang memiliki ambisi yang cukup hebat untuk keluarganya..
Sedih, hari itu sedih..begitu sedih, bahkan cukup gelap aura diwajahnya..
Walaupun hari-hari sebelumnya wajahnya masih sedih lantaran sang Ayah sakit, hingga sang Dokter memberikan kabar berita yang cukup menghujam siapa saja di muka bumi ini.
Hari itu aku namakan ‘Hari Sedih Sedunia’ 10/02/2003..
Oh dear, seandainya hari itu aku bisa menggenggam tanganmu..setidaknya mengusap kepalamu, agar kamu sedikit lega.
Tapi aku bukan siapa-siapa..Aku bukan siapa2..Sekali lagi aku bukan siapa2…
Entah aku kadang iri dengan semua orang yang dekat dengannya, walaupun dekat, aku hanyalah sedekat memandang dirinya dari kejauhan..
Sewindu bukanlah, waktu yang pendek untuk membiarkan semuanya menjadi riang. Tak ada hari yang tidak membuat bahagia untuk dirinya, baginya ditinggalkan oleh ayahnya adalah hari-hari yang menyedihkan.
Tak ada lagi sosok yang mengusap kepala kecilnya, apalagi yang memberikan saran dan kritikan untuknya.
Abel, begitulah aku memanggilnya, aku cukup senang bisa memanggil dia sedekat ini.
Aku senang bisa membuat dia tertawa sejenak, walaupun dalam hatinya, dia tak mampu untuk tersenyum.
Aku sudah jujur kepada dirinya, tentang semua perasaan, tentang semua cerita, tentang semua rahasia ketika dulu, sekitar delapan atau sembilan tahun lalu, aku bertemu dan mengenal dirinya.
Aku sempat marah, sempat kesal, sempat lari dari kenyataan ketika dia bersama dengan yang lain.
Oh, sudahlah aku sudah menceritakannya semua kepada dirinya, tak perlu panjang dan lebar aku teriakkan.
Maaf, hari ini aku tak bisa datang. But, every day, i pray for you. Apapun yang kau pilih untuk hidupmu.
I’m SORRY.
PS : Love You Abel.